Kamis, 22 Agustus 2019 09:00

Wakil Rektor ISI Surakarta: Kebudayaan adalah Warisan yang Tidak Memiliki Surat Wasiat

Yogyakarta - Mengingat kebudayaan merupakan warisan yang tidak memiliki surat wasiat, maka pelestarian, pengembangan dan pengelolaan budaya memerlukan keikhlasan yang didukung dengan perangkat politik anggaran yang memadai. Hal ini disampaikan oleh Dr. Pramutomo, M.Hum. pada ceramah isu strategis bertemakan Merawat Kebudayaan dalam rangka pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II yang diselenggarakan di Badan Diklat DIY DIY bekerjasama dengan Puslatbang KASN LAN-RI pada hari Kamis, 22 Agustus 2019.

 

Menurut Wakil Rektor ISI Surakarta ini, pelestarian kebudayaan juga hendaknya memperhatikan histori filosofi kebudayaannya, bukan hanya sekedar yang bersifat material. Artinya, obyek pemajuan budaya seperti yang tercantum di dalam Pasal 5 UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional harus dapat diformulasikan dan diturunkan menjadi literasi baru yang pemasyarakatannya memerlukan kerja keras, biaya besar, dan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kelompok masyarakatnya. Kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam memerlukan pewarisan yang panjang. Cara pewarisan kepada anak-anak PAUD, SD, SMP, SMA dan mahasiswa serta masyarakat berbeda-beda.

 

Lebih lanjut disebutkan, untuk mengembangkan dan melestarikan budaya perlu disusun cetak biru yang diturunkan dari budaya setiap daerah. Kegiatan yang banyak muncul saat ini adalah rekayasa budaya, karena hal ini lebih mudah. Kita harus belajar dari Jepang, bagaimana mereka di tengah kemajuan yang berhasil dicapainya, tetapi tradisi dan budaya yang memiliki nilai filosofi tinggi tetap dipertahankan. Hal ini penting, mengingat bangunan peradaban ditentukan oleh sistem pewarisan budaya yang dilakukan. Jika kearifan lokal, tradisi lokal sudah masuk dalam cetak biru, maka bisa dikembangkan di segala lini. Proses literasi dapat menggunakan berbagai macam media, termasuk daring. Untuk itu diperlukan peran serta para eksekutif pemerintah dan politisi, para ilmuwan sosial, para budayawan dan seniman. (wur)

 

Telah dibaca 39 kali

Tuliskan komentar/pertanyaan

Silahkan isikan komentar dan/atau pertanyaan Anda disini

Terbaru

4743849
Hari Ini
Kemarin
Bulan Ini
Bulan Lalu
1453
2895
81884
82185

IP Anda: 34.237.76.91