Rabu, 07 Agustus 2019 09:29

Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XXIII Tahun 2019

Yogyakarta – Pusat Latihan Pengembangan Penilaian Kompetensi Aparatur Sipil Negara Lembaga Administrasi Negara (PUSLATBANG PK ASN LAN) bekerja sama dengan Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah Istimewa Yogyakarta (Badan Diklat DIY) melaksanakan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XXIII Tahun 2019.

 

Pembukaan dilaksanakan di Gedhong Pracimosono, Kepatihan, DIY, pada hari Rabu, 7 Agustus 2019 yang dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, Kepala LAN RI, Bapak Dr. Adi Suryanto, M.Si., Staf Ahli Bidang Budaya Kerja, Kementerian PANRB, Bapak Drs. Teguh Widjinarko, M.P.A., Kepala Puslatbang PKASN LAN, Bapak Hari Nugroho, SE., MPM., Sekretaris Daerah DIY, para Staf Ahli Gubernur DIY dan para Asisten Sekda DIY, Kepala Badan Diklat DIY, Bapak Ir. Kuncoro Cahyo Aji, M.Si., pejabat struktural di Pemda DIY, tamu undangan, widyaiswara, fasilitator dan para peserta PKN Tingkat II Angkatan XXIII Tahun 2019.

 

Bapak Hari Nugroho dalam laporannya menjelaskan bahwa PKN Tingkat II bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan pejabat struktural eselon II yang akan berperan dalam melaksanakan tugas dan fungsi kepemerintahan di instansinya masing-masing.

 

Pelatihan dilaksanakan di Kampus Badan Diklat DIY, Gunung Sempu, Tamantirto, Kasihan, Bantul, kurang lebih selama 101 hari dimulai pada 7 Agustus s.d. 30 November 2019 dengan on/off class, peserta diasramakan. Peserta berasal dari pusat, provinsi, dan kabupaten dari berbagai wilayah di Indonesia.

 

Tahapan dalam pelatihan ini meliputi:

1.       Tahap Diagnosa Kebutuhan Perubahan

2.       Tahap Membangun Komitmen Bersama

3.       Tahap Merancang Perubahan dan Membangun Tim

4.       Tahap Laboratorium Kepemimpinan

5.       dan Tahap Evaluasi.

 

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X dalam sambutannya mengatakan ASN sejatinya melakukan ngawula yang merupakan proses mengabdikan diri dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dengan memperhatikan tata aturan yang ada.

 

Menurut Wakil Gubernur DIY, empat syarat yang harus dimiliki dalam upaya ngawula tersebut yaitu kewasisan, taberi, budi rahayu, dan kesarasan yang berarti kepandaian atau kompetensi – rajin dan telaten – perilaku yang baik – sehat jiwa dan raga.

 

Pemimpin, lanjut Wakil Gubernur DIY,  tidak hanya memberikan perintah tetapi juga perlu meminta pendapat dan mendengarkan masukan dari bawahannya. “Satu hal sederhana yang dapat dijadikan strategi dalam menjalankan kepemimpinan yaitu mendengarkan. Sesanti luhur “Sukeng Tyas Yen Den Hita” mengajarkan bahwa mendengarkan dan menerima masukan adalah cara terbaik dalam melakukan perbaikan dan evaluasi,” tegas Wakil Gubernur.

 

Disisi lain, dalam sambutannya Bapak Teguh Widjinarko berpesan kepada peserta, agar setelah menyelesaikan pelatihan, diharapkan memiliki peran perubahan dan berkewajiban menciptakan calon-calon pemimpin selanjutnya. “jadikan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan ini menjadi bekal yang berharga untuk melakukan perubahan-perubahan di unit kerja atau instansi masing-masing,” katanya menambahkan.

 

Sementara itu, Bapak Adi Suryanto dalam sambutannya mengungkapkan bahwa DIY membuat sejarah karena baru pertama kali PKN Tingkat II baru dilaksanakan di DIY. “Saya kira ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi kita semua, ini pertama kalinya PKN Tingkat II atau dulu yang disebut dengan Diklat Pim 2, diselenggarakan di Provinsi DIY,” terang beliau.

 

Lebih jauh Bapak Adi Suryanto menjelaskan, model pembelajaran pada Diklat Kepemimpinan pola lama berbeda dengan sekarang. Pada pola lama pembelajaran lebih ditekankan pada materi konsep, teori kebijakan, administrasi, dan manajemen dengan berbagai macam metode dan studi kasus. Sementara saat ini, pembelajaran lebih diarahkan agar bagaimana peserta setelah lulus dapat menjai pemimpin perubahan yang bisa menghasilkan kerja lebih baik dari sebelumnya.

 

“Pemimpin itu harus mampu dan berani melakukan perubahan, mengidentifikasi masalah organisasi menurut saya menjadi penting, tidak mungkin kita bisa melakukan perubahan kalau tidak pernah tau masalah organisasi secara detail, jangan seperti pemimpin-pemimpin dulu,” tegas Bapak Adi Suryanto.

 

Beliau juga berpesan, agar peserta sebagai pemimpin instansi sebaiknya memberikan kesempatan kepada generasi ASN muda, karena ASN sekarang memahamiteknologi terkini dan dapat bekerja dengan lebih cepat. (hdk)

Telah dibaca 54 kali

Tuliskan komentar/pertanyaan

Silahkan isikan komentar dan/atau pertanyaan Anda disini

Terbaru

4622758
Hari Ini
Kemarin
Bulan Ini
Bulan Lalu
781
1382
42978
85395

IP Anda: 34.238.194.166