Sabtu, 25 Agustus 2018 10:28

Penutupan Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan I Tahun 2018

Yogyakarta – Penutupan Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan I Tahun 2018 dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 di Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah Istimewa Yogyakarta (Badan Diklat DIY). Hadir dalam penutupan tersebut, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Bapak Moedji Rahardjo, SH., M.Hum., yang mewakili Sekretaris Daerah DIY.

Acara penutupan juga dihadiri oleh para tamu undangan dari instansi pengirim, pejabat struktural dan Widyaiswara Badan Diklat DIY. Acara diawali dengan penyampaian kesan dan pesan oleh salah satu orang perwakilan peserta.

Dalam acara tersebut dipaparkan 2 Proyek Perubahan Peserta yang merupakan 2 Proyek Perubahan terbaik. Pada kesempatan yang pertama dipaparkan oleh Bapak Bambang Sugaib, ST., MT., dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PU dan ESDM) DIY dengan Proyek Perubahan “Penataan Ruang Publik dalam Pemeliharaan Jalan”.

Paparan kedua disampaikan oleh Ibu Ristyawati, ST., M.Eng., dari Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Yogyakarta dengan Proyek Perubahan “Satu Benik Dalam Gisi Seimbang – Sasaran Tunggal Ber-NIK dalam Sinergi Intervensi Semua Implementasi Pembangunan Kota Yogyakarta”

Evaluasi terhadap peserta yang disampaikan oleh Kepala Badan Diklat DIY, Bapak Ir. Kuncoro Cahyo Aji, M.Si., menjelasksan bahwa penilaian terhadap kelulusan peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat III

difokuskan pada aspek proyek perubahan dengan mempertimbangkan aspek sikap dan perilaku.

Sebanyak 40 orang peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan I Tahun 2018 yang dinyatakan LULUS adalah sebanyak 39 orang dengan kualifikasi kelulusan:

o   Sangat Memuaskan        : - orang

o   Memuaskan                   : 30 orang

o   Cukup Memuaskan         : 9 orang

o   Ditunda Kelulusan          : 1 orang

Berikut 8 (delapan) peringkat terbaik Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan I Tahun 2018, berturut-turut sebagai berikut:

1.     Ristyawati, ST., M.Eng., dari Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Yogyakarta dengan proyek perubahan: Satu Benik Dalam Gisi Seimbang – Sasaran Tunggal Ber-NIK dalam Sinergi Intervensi Semua Implementasi Pembangunan Kota Yogyakarta

2.     Bambang Sugaib, ST., MT., dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PU dan ESDM) DIY dengan proyek perubahan: Penataan Ruang Publik dalam Pemeliharaan Jalan

3.     Drs. Rocmat, M.Pd., dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta dengan proyek perubahan: Akselerasi Pemerataan Mutu Pendidikan SD di Kota Yogyakarta Berbasis “Gandeng-Gendong”

4.    Umi Akhsanti, ST., MT., dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta dengan proyek perubahan: Strategi Pemanfaatan Data Penggunaan Ruang Milik Jalan sebagai Sinergitas Stakeholder Menuju Yogyakarta Ramah Pejalan Kaki

5.    Budi Santosa, ST., M.Eng., dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sleman denga proyek perubahan: Sistem Rekomendasi Menara Telekomunikasi (Sikomen) Online

6.  Agustinus Nurcahyo Budi Wibowo, ST., MT., dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kabupaten Kulon Progo dengan proyek perubahan: Sistem Manajemen Penanganan Jalan untuk Menuju Tata Kelola Jalan yang Lebih Baik

7.   Sunaryo, S.Pd., dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSPPPA) Kabupaten Kulon Progo dengan proyek perubahan: SI PELURU JAMESBON (Sistem Pelayanan Umum Rujukan Jaminan Kesehatan Sosial Berbasis Online)

8.   Setiya Birawa, SH., dari Dinas Sosial dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DSPPKB) Kabupaten Kebumen dengan proyek perubahan: SINYAL EKSIS DOSARASO (Sistem Layanan Rehabilitasi Eks Psikotik di Rumah Singgah Dosaraso)

 

Dalam sambutan Sekda DIY, Bapak Moedji Rahardjo menuturkan, transformasi dan reformasi birokrasi merupakan hal yang penting untuk diwujudkan. Perubahan sistem, mekanisme, dan prosedur dalam berbagai aspek birokrasi mempunyai upaya yang mestinya secara simultan diikuti dengan perubahan kultur birokrasi.

Bapak Moedji Rahardjo melanjutkan, kultur birokrasi merupakan aspek yang tidak mudah untuk dilakukan karena kultur merupakan sebuah proses yang pelakunya adalah manusia. Struktur kelembagaan cepat dan mudah diganti, peraturan dapat diubah sekian kali, namun kultur birokrasi tidak serta merta akan mengikuti perubahan-perubahan tersebut.

Program pendidikan dan pelatihan adalah sebuah proses yang diharapkan akan menunjang peningkatan karier seseorang, sekaligus membantu menjadi lebih efektif dalam mencapai tujuan organisasi.

“Untuk itu saya berharap melalui penyelenggaraan Diklat Pim Tingkat III ini dapat melahirkan sosok aparatur pemerintah yang memiliki kompetensi jabatan sesuai dengan tuntutan tugas, sehingga dapat melaksanakan perannya secara optimal, baik sebagai abdi negara maupun sebagai abdi masyarakat,” tutup Bapak Moedji Rahardjo mengutip sambutan Sekda DIY.

 

(Tim Peliput)

Telah dibaca 107 kali

Tuliskan komentar/pertanyaan

Silahkan isikan komentar dan/atau pertanyaan Anda disini

Terbaru

4092323
Hari Ini
Kemarin
Bulan Ini
Bulan Lalu
359
1705
22572
46269

IP Anda: 54.198.212.30